Kamis, 28 Januari 2010

makalah parafrase

MAKALAH
MEMBUAT PARAFRASE LISAN

Disusun oleh:
Kelompok 2
Ketua: Elvan suryatama
Anggota: 1. Devi andriani
2. Diosi julianto

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN REJANG LEBONG
SMK N 1 CURUP TIMUR
2009/2010

Kata pengantar
Assalammualaikum, wr,wb
Puji syukur kami panjatkan kepada allah swt, karena berkat dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah bahasa Indonesia ini dengan sebaik-baiknya. Solawat dan salam semoga tersampaikan kepada nabi Muhammad saw.
Kami sengaja menyusun makalah ini dengan maksud untuk melaksanakan tugas yang diberikan sekaligus mempelajari isi dari makalah yang kami buat. Makalah ini berisi tentang PARAFRASE LISAN.
Penyusn berharap agar makalah ini dapata bermanfaat bagi para pembacanya. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini, sehingga makalah ini dap[at diselesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu kami harapkan kritik dan sarannya. Agar kami bias membat makalah dengan lebih baik lagi dan kesempurnaan pada makalah yang akan dating.

Wasssallam…

Curup,25 Januari 2010


Penyusun



DAFTAR ISI
-Kata Pengantar
BAB 1 PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Permasalahan
C.Ruang Lingkup Permasalahan

BAB 2 PEMBAHASAN
A.Pengertian Parafrase
B.Teknik Membuat Parafrase
C.Contoh Parafrase

BAB 3 PENUTUP
A.Simpulan
B.Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Parafrase lisan adalah sebuah uraian tertulis yang telah dibaca atau didengar dan diungkapkan kembali secaralisan dengan kalimat sendiri. Pembuatan parafrase ini memerlukan tekni-teknik. Banyak siswa-siswi yang belum mengerti cara pembuatan parafrase dengan baik, oleh karena itu kami membuat makalah ini dengan tujuan agar siswa-siwi mengerti cara pembuatan parafrase dengan baik dan benar. Semoga makalah ini berguna bagi kita semua.

B.Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan parafrase ?
2. Bagaimana teknik membuat parafrase ?
3. Buatlah parafrase dari suatu wacana atau artikel !

C.Ruang Lingkup Permasalahan
Dalam pembuatan parafrase banyak yang belum mengetahui teknik atau cara untuk membuat parafrase dengan baik. Banyak juga yang belum mengetahui apa yang dimaksud dengan parafrase, oleh karena itu kami mengambil permasalahan diatas dengan maksud dan tujuan supaya yang membaca makalah ini dapat mngetahui pengertian parafrase dajn teknik pembuatannya.




A. Pengertian Parafrasa

Berdasarkan kamus bahasa indonesia parafrasa adalah
1. Pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi macam yang lain tanpa mengubah pengertiannya
2. Penguraian kembali sebuah teks dalam bentuk yang lain, dengan maksud untuk dapay menjelaskan makna yang tersembunyi
Parafrasa mengandung arti pengungkapan kembali suatu tuturan atau karangan menjadi bentuk lain namun tidak mengubah pengertian awal. Langkah membuat parafrasa dengan cara meringkasnya terlebih dahulu. namun, hasus diingat parafrasa disusun dengan bahasa sendiri bukan dengan bahsa asli penulis.

B. Cara Membuat Parafrasa
Berikut adalah hal yang perlu dilakukan untuk membuat parafrasa
dari sebuah bacaan.
(1) Bacalah naskah yang akan diparafrasakan sampai selesai untuk
memperoleh gambaran umum isi bacaan/tulisan

(2) Bacalah naskah sekali lagi dengan memberi tanda pada bagian-bagian
penting dan kata-kata kunci yang terdapat pada bacaan.
(3) Catatlah kalimat inti dan kata-kata kunci secara berurut.
(4) Kembangkan kalimat inti dan kata-kata kunci menjadi gagasan pokok
yang sesuai dengan topik bacaan.
(5) Uraikan kembali gagasan pokok menjadi paragraf yang singkat dengan
bahasa sendiri.
Teknik membuat Parafrasa lisan adalah sebagai berikut
1. Membaca Informasi secara teliti dan cermat
2. Memahami isi informasi secara umum.
3. menulis inti pokok informasi dengan kalimat sendiri
4. mencatat kalimat pokok secara urut
5. menegmbangkan kalimat inti atau kata-kata kunci menjadi pokok-pokok pikiran sesuai dengan tema/topik informasi sumber
6. menyampaikan secara lisan menggunakan kalimat sendiri


CDMA
Halo-halo di Simpang Abu-abu

SILANG pendapat soal telepon tetap tanpa kabel (wireless) berujung di Gedung Departemen Pos dan Telekomunikasi. Kamis pekan lalu, Djamhari Sirat, Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel), mengundang semua bos perusahaan operator jasa telekomunikasi. Hadir dalam pertemuan itu, antara lain wakil dari Telkom, Indosat, Satelindo, Telkomsel, IM3, Excel, Ratelindo, dan Komselindo.Intinya, para pelaku bisnis halo-halo itu berembuk tentang masa depan industri telekomunikasi. Debat paling seru, ya, soal mencari titik temu kontroversi serbuan telepon tetap tanpa kabel berbasis teknologi code division multiple acces (CDMA) milik PT Telkom.Perdebatan dipicu oleh gerakan agresif Telkom memasarkan TelkomFlexi. Peluncurannya di Jakarta, dua pekan lalu, membuat para operator telepon genggam berbasis global system for mobile communication (GSM) ketar-ketir. Sebab, produk Telkom itu tak ubahnya telepon seluler. Yakni dengan handset yang bisa ditenteng ke mana-mana. Persis telepon genggam biasa. Namun tarifnya setara dengan pulsa lokal (lihat GATRA edisi 18/09, 22 Maret 2003).

Selain itu, teknologi CDMA yang diboyong TelkomFlexi dilengkapi dengan berbagai fitur seperti pada telepon seluler. Ditambah lagi, handset CDMA memiliki kemampuan mengakses data dan koneksi internet lebih cepat. Seperti halnya telepon seluler, Flexi tersedia dalam dua pilihan, yakni pascabayar dan prabayar. Dengan berbagai kelebihan itu, dikhawatirkan Flexi menggerus pasar GSM.

Djamhari Sirat merasa perlu menanggapinya. Lewat secarik kertas yang diteken pada 27 Mei, Djamhari menegaskan rambu-rambu bagi Telkom selaku operator telepon wireless. Menurut dia, mobilitas TelkomFlexi seharusnya diarahkan di wilayah dalam area cakupan satu base transceiver station (BTS), tanpa memberlakukan roaming, handover, atau automutasi terminal pelanggan. Tapi, Dirjen Postel mendukung pemanfaatan fitur atau nilai tambah pada sistem CDMA itu.

Perlu dicatat, izin awal TelkomFlexi diarahkan untuk mempercepat peningkatan penetrasi layanan telekomunikasi. ''Fix wireless diharapkan mampu menjadi solusi untuk memenuhi daftar tunggu pendaftar telepon,
khususnya di daerah yang tidak terjangkau jaringan kabel telepon,'' kata Djamhari. Tetapi, ia menemukan fakta, TelkomFlexi hanya dibangun di kota-kota besar yang selama ini sudah terjangkau jaringan telekomunikasi.

Para pelaku operator GSM menilai, maraknya penggunaan teknologi CDMA lantaran ketidakjelasan tatanan regulasi telekomunikasi di Indonesia. Langkah peluncuran TelkomFlexi di perkotaan besar ibarat Telkom menyalip operator lain di jalur abu-abu. ''Para investor menginginkan kejelasan dan ketegasan soal regulasi,'' ujar Rudiantara, Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia.

Menurut Rudi, regulasi itu harus berpegang pada kaidah-kaidah internasional. Intinya, kalau jaringan itu termasuk telepon tetap, apa pun teknologinya, baik tanpa kabel maupun dengan kabel, mestinya diperlakukan sebagai telepon tetap (fixed line). Sebab, lisensinya berbeda dari yang dikantongi penyelenggara jaringan seluler. ''Kalau tidak ada ketegasan, nanti muncul situasi ganjil apabila teknologi yang sama dipakai oleh penyelenggara dengan lisensi berbeda,'' kata Rudi kepada Marya Onny dari GATRA.

Hal lain yang disoal adalah masalah pengaturan tarif. Banderol pulsa lokal untuk Flexi, menurut Wimboh S. Hardjito, Direktur Niaga Seluler PT Satelindo, masih diguyur subsidi. Dijelaskan, penetapan tarif untuk seluler terdiri dari dua bagian, yakni tarif interkoneksi yang dibayarkan ke perusahaan pemilik jalur yang dilewati dan ongkos airtime yang menjadi keuntungan operator seluler. Nah, TelkomFlexi tidak mengutip ongkos airtime. ''Kondisi ini bisa merusak tatanan yang ada di industri seluler,'' kata Wimboh.

Wimboh memprediksi, bila Telkom tetap memberlakukan tarif subsidi untuk si Flexi, dalam jangka waktu enam bulan, bisnis Satelindo akan terganggu. ''Saya perkirakan ada kemungkinan rugi, tapi angka pastinya belum diketahui,'' ujarnya. Untuk menghadang gerogotan TelkomFlexi, pihaknya terus melakukan pembenahan dan memberi pelayanan lebih kepada konsumen. Misalnya dengan memperluas daya jangkau sinyal GSM, serta memperbanyak fitur canggih seperti Satelindo@acces, GPRS, Mentari Internasional, dan pembebasan roaming di penjuru Tanah Air.

Strategi membentengi diri juga dijalani Telkomsel. Pemilik kartuHALO dan SimPATI itu mulai memperluas zona lokal seluler dan bebas roaming sejak awal Mei lalu. ''Sebelumnya tercatat 27 POC (point of charge), kini menyusut jadi 18,'' kata Azis Fuedi, juru bicara Telkomsel. Ambil contoh, selain bebas roaming, kini pembicaraan dengan fasilitas kartuHALO dan simPATI di seluruh Bali dan Nusa Tenggara dikenai tarif lokal.

Begitu juga untuk cakupan seluruh Papua, area Jawa Jambi-Bengkulu-Bangka, serta Sulawesi Utara-Maluku dan Kalimantan Selatan-Tengah. Dengan perluasan zona lokal ini, Telkomsel berharap tetap memiliki nilai lebih dibandingkan dengan telepon tetap tanpa kabel yang tidak bisa menembus keluar kode area.

Meski Erik Meijer, General Manager PT Telkomsel, mengaku belum terganggu oleh kehadiran TelkomFlexi. Tapi, ia menyimpan rasa waswas. Menurut dia, kalau proyek CDMA ala Telkom ini dibawa ke arah telepon bergerak, hak dan kewajibannya harus mengikuti aturan yang berlaku pada operator seluler. ''Kalau masih diperlakukan sebagai operator telepon tetap, ya, nggak fair,'' kata Erik kepada Rini Anggraini dari GATRA. Namun, sepanjang Flexi mengikuti aturan, Erik justru melihatnya sebagai pemicu perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia.

Meski kehadiran Flexi diributkan, toh pihak Telkom maju tak gentar. Setelah meluncurkan TelkomFlexi di Surabaya, akhir tahun lalu, disusul Denpasar dan kota-kota besar lain seperti Balikpapan, Batam, dan Makassar, akhirnya Jakarta pun dirambah. Telkom melakukan investasi terbesar paket CDMA dari proyek T-21 (Telkom abad ke-21).

Dani Ramdani, Senior Manager Pembangunan dan Operasi Divisi Fixed Wireless PT Telkom, menjelaskan, perusahaan pelat merah ini merencanakan pembangunan 46 BTS yang memancari 90% wilayah di Jakarta. ''Target kami membangun 125 BTS untuk melayani seluruh wilayah Jakarta,'' kata Dani.

Setelah Jakarta, TelkomFlexi akan digiring ke Medan, Malang, Palangkaraya, Banjarmasin, Bandung, Semarang, dan terakhir Yogyakarta. Investasi untuk membangun jaringan CDMA diperkirakan US$ 200 hingga US$ 250 per satuan sambungan. Bandingkan dengan investasi untuk jaringan kabel yang mencapai US$ 800 hingga US$ 1.000.

Menurut Dani, penerapan teknologi CDMA bermula dari proyek T-21 yang dirancang bersama konsultan Booz Allen Hamilton. T-21 mengkaji berbagai alternatif teknologi untuk basis pengembangan Telkom. Intinya, menyediakan akses telekomunikasi murah bagi masyarakat.

Berbagai teknologi seperti GSM, CDMA, dan PHS sistem Jepang dievaluasi. Hasilnya dipilih CDMA 2000 1X dengan pertimbangan investasinya cukup murah. Samsung ditunjuk sebagai vendor sistem operasi sekaligus pembangunan BTS untuk kawasan Indonesia Timur, sedangkan Ericsson kebagian membangun BTS untuk Jakarta, dan Motorola untuk Sumatera.

Dani menegaskan perbedaan Flexi dan layanan seluler. ''Seluler dioperasikan kapan saja dan di mana saja, sedangkan Flexi dipakai kapan saja di areal terbatas,'' katanya. Meski handset Flexi bisa dicangking ke mana saja, Telkom memprogram penggunaannya terbatas di dalam kode area yang ditentukan.

Pelanggan TelkomFlexi di Jakarta, misalnya, tidak bisa mengoperasikan pesawatnya di Bogor. Untuk area Jakarta, Telkom berencana membagi wilayah dalam lima sektor. Jika melakukan panggilan di luar sektor asal, pelanggan dikenai biaya automutasi sebesar Rp 50 per menit.

Kemudahan automutasi dan konsentrasi pembangunan di kota-kota besar inilah yang dipersoalkan Djamhari. ''Kita ingin teknologi telekomunikasi menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat,'' kata Djamhari kepada Andy Saputro dari GATRA.

Dia menjelaskan, pihaknya membentuk tim kecil, terdiri dari unsur pemerintah, para operator, dan pihak-pihak terkait untuk meninjau ulang tatanan telekomunikasi Indonesia. Tim ini telah mengumpulkan data-data, dan dalam proses penataan. ''Tujuannya, agar industri telepon dapat maju terus dan menguntungkan semua pihak secara fair,'' ujar Djamhari.

Gelombang kritik yang dialamatkan ke Telkom selaku perintis telepon nirkabel berbasis CDMA ditanggapi Garuda Sugardo, Direktur Telkom, dengan enteng. ''Jika konsumen mendapat pilihan lebih baik, mengapa diributkan?'' kata Garuda kepada Johansyah dari GATRA.

Bahwa peluncuran TelkomFlexi dimulai dari kota besar, menurut Garuda, itu hanya proses awal dari rencana Telkom membangun jaringan serupa di 40 kota. ''Telkom berencana masuk juga ke kota-kota kecil yang tidak dilirik operator lain,'' katanya. Kebetulan, kota besar memiliki infrastruktur lebih lengkap, sehingga memudahkan pengenalan ke masyarakat.

Warga Surabaya dan Denpasar terbukti

cukup antusias menyambut kehadiran telepon tanpa kabel bertarif lokal ini. Syaifuddin Zuhri, misalnya, kepincut produk anyar keluaran Telkom itu, dua bulan lalu. Pemilik usaha biro perjalanan Sepinggan Indah Jaya di Surabaya ini setiap bulan menghabiskan Rp 2 juta untuk berkomunikasi dengan koleganya.

Dengan biaya Rp 1,6 juta, ia mendapat layanan TelkomFlexi, lengkap dengan handset dan nomornya, sejak tiga pekan lalu. ''Saya gunakan setiap saat, ternyata biayanya baru Rp 200.000,'' ujar Syaifuddin. Sayangnya, ia tak bisa menggunakan pesawatnya ketika harus ke luar kota, sehingga telepon seluler masih tetap dia butuhkan.

Di Bali, pemakai TelkomFlexi mencapai 2.500 orang sejak diluncurkan akhir tahun lalu. Kata Saiful Azhar, Kepala Unit Legal dan Promosi Kandatel Bali, Telkom membangun 10.000 unit sambungan untuk wilayah Denpasar dan Badung, yang didukung empat BTS.

Sayangnya, ketika baru diluncurkan, handset CDMA masih langka, sehingga menyulitkan para pelanggan baru. Hambatan lain, menurut pengakuan beberapa pemakai, sinyal TelkomFlexi masih lemah. Tetapi, diakui Ni Komang Suartini, seorang pelanggan TelkomFlexi, bisnisnya makin lancar setelah tangannya selalu menggenggam handset CDMA tipe Samsung A250 yang dibelinya seharga Rp 1,5 juta.

Beda dengan kondisi di Bali, kini handset CDMA membanjiri Jakarta. Setidaknya, ada empat merek yang dicatat Satrio Adhi dari GATRA ketika berkunjung ke ITC Roxy Mas, yakni Motorola, Nokia, Samsung, dan Sanex. ''Harganya Rp 1,5 hingga Rp 1,6 juta,'' kata Maria, seorang penjual alat komunikasi seluler. Tetapi, sampai pekan lalu, Maria belum berhasil menjual handset itu.

Bagaimanapun, Flexi telah hadir dengan ragam layanan lebih menggiurkan. Akankah teknologi GSM yang pernah menggilas habis bisnis pager bakal terjadi? Di atas kuasa regulator dan kepentingan operator, mestinya konsumen harus diutamakan.











BAB 3
PENUTUP

A.Simpulan
Dari isi makalh ini kita dapat menarik simpulan yaitu, dalam pembuatan parafrase kita harus memperhatikan teknik-teknik dalam pembuatan parafrase.
Dalm pembuatan parafrase diperlukan kecermatan dalam membaca, mencatat, mengembangkan, dan menguraikan kalimat-kalimat yang telah kita baca.

B.Saran
Kami menyarankan kepada pembaca agar terus berlatih dalam pembuatan parafrase dan dalam membuat parafrase kita harus melakukan dengan teknik-teknik yang telah tercantum dalam isi makalah ini.

Semoga makalah ini berguna bagi pembaca dan juga penyusun. Kami selaku poenyusun minta maaf atas kekuramngan pada makalah kmai dan mohon kritik dan sarannya.

Wassallam ..
























DAFTAR PUSTAKA

Honatri Euis.2005. Memahami Bahasa Indonesia SMK Tingkat 2 Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen, Bandung:Armico.

3 komentar:

  1. bagus makalahnyaaaa

    BalasHapus
  2. makasih ka makalahnya berkat makalah kk saya bisa dapet materi buat presentasi

    BalasHapus